Susahnya Jadi Seorang Motivator

Posted: April 12, 2013 in My Dokument

Pagi ini lagi males ngapa-ngapain, suami sudah pesen sebelum berangkat kerja supaya aku istirahat saja,gak boleh ngerjain urusan dapur. Beginilah kalau flu sudah menyerang, pusing, badan pegel-pegel dan hidung tersumbat.

Karena sudah cukup tidur tadi malam, jadi nggak bisa tidur lagi, jadi iseng-iseng buka FB. Namanya juga lagi iseng, ya statusnya temen-temen di baca dan di komentarin, dan juga satusnya anak-anak, maklum ibunya kan kaya detektief, yang pingin tau segalanya. Makanya anak saya yang sulung nggak mau menerima permintaan pertemenan saya di FB hehehe…..

Tetapi walaupun saya gak berteman dengan dia, saya bisa membaca statusnya, walaupun tidak bisa mengomentarinya. Statusnnya hari sabtu ” PEKERJAAN SEBERAT APAPUN AKAN TERASA RINGAN APABILA TIDAK DIKERJAKAN…..” wah, ada apa gerangan nih dengan si sulung yang bener-bener lagi puber. Setelah melanjutkan baca-baca FB-nya ternyata dia tuh lagi males sama yang namanya belajar, dia tuh lagi cuek sama pelajaran-pelajaran sekolahnya dan nggak mau ngerjain tugas-tugas sekolahnya. Mana bisa sih? Dia kan sudah kelas dua sma, terus gimana nanti kalau dia mau kuliah? Sudah pusing, jadi tambah pusing aku baca FBnya dia. Pantesan sewaktu aku menanyakan hasil ulangan umumnya dua minggu yang lalu, jawabannya selalu: “aku gak tau, sampai sekarang belum di kasih tau” Walaupun sebenarnya aku gak percaya tetapi aku berusaha mengerti dan bilang kalau aku tunggu hasil raportnya saja ya. Lewat FB-nya dia ini aku tau kenapa dia selalu bilang seperti itu, karena nilainya anjlok semua. Padahal dia tau, kalau memang dia tidak naik kelas tahun ini pasti aku Cuma bilang, tahun depan di usahain lebih giat sedikit ya belajarnya, biar bisa naik kelas. Gak perlu deh kamu sampai jadi juara hehehe.

Selama ini aku berusaha untuk tidak memberikan beban yang berat untuk si sulung. Karena untuk jadi puber aja sudah berat, menghadapi teman-teman sekolah, teman di rumah dan juga menghadapi orang tua (yang ingin anak-anaknya menjadi orang berhasil kelak) dengan segala wejangannya. Jadi menurutku aku sudah berusaha untuk bisa mengerti dia. Aku sudah tau type anak ku yang sulung, makin di suruh belajar makin tidak mau belajar. Jadi selama ini aku Cuma bilang kalau kamu sayang dengan ibu, coba dong di usahain untuk menyelesaikan sekolah sma ini, kalau kamu setelah itu tidak mau kuliah, itu terserah kamu. Setelah kamu selesai sekolah sma ini, kamu boleh cuti sekolah dulu selama satu tahun sambil mikir-mikir mau ngapain kelak. Namanya juga seorang ibu, doa-nya tidak pernah terlepas, semoga setelah dia menyelesaikan sekolahnya, dia sudah tambah dewasa dan bisa berfikir dengan baik, berfikir untuk mulai menata masa depannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s