Perang dan Peradaban

Posted: April 12, 2013 in My Dokument

Perang seolah sudah menjadi keniscayaan zaman terlepas nilai persoalan yang memicunya. Padahal tidak satupun yang menyukai perang mengingat akibat yang ditimbulkan sering tidak sebanding dengan nilai persoalan yang menjadi sumber terjadinya peperangan tersebut. Perang mungkin akan tetap saja terjadi, tidak hanya di dalam catatan sejarah atau ketika saat ini baru saja usai perang antara Irak melawan koalisi (Amerika & Inggris), bahkan esok hari masih terbuka peluang untuk terjadi. Jika Mahatma Gandhi mengkampanyekan gerakan anti kekerasan sebagai cara terbaik untuk menghindari peperangan, lalu mengapa manusia masih tetap saja memilih cara perang?

Alasan
Perang terjadi oleh dorongan untuk membenarkan kenyataan alamiah yang bertentangan dengan misi penciptaan manusia untuk menyatakan kebenaran. Kenyataan alamiah yang bisa membenarkan alasan untuk memilih perang adalah:

a. Perbedaan Individual
Secara alamiah, setiap manusia yang dilahirkan dengan berbagai perbedaan. Jika diibaratkan maka ketika lahir setiap manusia sudah menempati salah satu ‘tebing sungai’ yang berbeda dengan manusia lain. Sementara dengan sejumlah keinginannya yang berada di ujung tebing masing-masing, hukum alam menggariskan bahwa manusia tidak bisa meraihnya seorang diri tetapi harus melalui keterlibatan manusia lain di tebing yang berlawanan. Oleh karena itu secara tidak langsung muncullah keharusan untuk saling melewati sungai agar interaksi dapat diciptakan. Supaya proses penyeberangan dapat berjalan lancar maka peradaban memperkenalkan teknologi membangun ‘jembatan’.

Jembatan itulah yang bisa menggambarkan penjelasan dari Walton C. Bosher, seorang konsultan Human Relation, dalam artikelnya “Assumptions about Human Nature” yang mengatakan bahwa manusia memiliki tiga pilihan watak dari perilakunya yaitu:
1. Animalistic
2. Humanistic
3. Rationalistic

Dikatakan pilihan karena ketiganya berwujud dalam satu bentuk konstruksi berlapis yang memberi kebebasan pada semua orang untuk melewati berdasarkan nilai-nilai peradaban yang sudah diserapnya. Ketika anda memilih jembatan animalistic, maka hukum yang berlaku adalah kompetisi dualistic dan kongkurensi hewani yang menabrak – menubruk atau menang-kalah terlepas dari urusan besar-kecil nilai kepentingan. Jembatan lapis paling bawah ini dibangun di atas konstruksi paradigma perbedaan dan perubahan untuk dipertentangkan.

Maka sudah tak bisa disangkal, jembatan ini akan mengantarkan para penyeberang ke ujung tebing perpecahan, sehingga muncullah kreasi paradoks atau dikhotomistik. Contoh: jauh sebelum perang demokrasi berkobar di bumi Irak, perang mempertahankan Orde Baru dan merebut ‘reformasi’ juga terjadi di sini. Sayangnya jembatan yang dipilih untuk melewati sungai adalah jembatan animalistic sehingga melahirkan peperangan kedua yang menghasilkan kreasi paradok berupa kebebasan yang kebablasan.

b. Rasa Cinta
Selain dipicu oleh alasan perbedaan tebing, peperangan juga berhubungan erat dengan kodrat manusia berupa rasa cinta. Menurut Leslie Giblin dalam Skill with People (1995), orang lain lebih tertarik [baca: lebih cinta] terhadap dirinya ketimbang dengan anda dalam jumlah perbandingan sepuluh ribu kali lipat.

Kalau anda meneriakkan kata-kata “Maling” kepada orang yang memasuki rumah di tengah malam untuk tujuan maling, kira-kira kemungkinan yang umum terjadi ada tiga. Pertama, orang itu lari dengan alasan rasa takut atau ingin menyelamatkan diri dari amukan massa atau noda citra diri yang bisa diartikan menolak dikatakan maling. Kedua, orang itu akan melawan dengan alasan membela diri atas tuduhan yang diteriakkan. Ketiga, orang itu akan mengaku salah dan minta maaf. Kemungkinan ketiga ini amat sangat jarang dilakukan. Maling menolak dikatakan maling bukan karena ia tidak tahu bahwa perbuatannya salah atau sudah menemukan ajaran baru yang membenarkan untuk maling, tetapi semata karena memahami bahwa pembelaan diri itu ‘hukumnya wajib’ atas dasar rasa cinta.

Inilah kenyataan alamiah yang kurang diingat ketika berinteraksi sehingga gampang sekali memunculkan fenomena perang di mana orang lebih suka berbicara dari pada mendengarkan, lebih dulu minta dipahami dari pada memahami, dan lebih dulu menuntut orang lain berubah sebelum mengubah diri.

c. Alasan Pembenaran
Semua tindakan manusia dikontrol oleh isi pikirannya dalam arti menemukan sudut pandang yang membenarkannya untuk melakukan suatu tindakan tertentu. Dari contoh maling di atas, tidak saja ia menolak dituduh karena alasan membela diri tetapi kalau diurut lebih panjang, maling tersebut berusaha sekuat mungkin untuk mengatakan kepada dirinya bahwa ia mencuri karena memenuhi tanggung jawab suci sebagai suami atau istri.

Di dalam seluruh tindakan selalu dapat ditemukan bagian tertentu yang bisa dijadikan alasan untuk salah atau benar terlepas apakah tindakan itu nyata-nyata salah / benar menurut kebenaran atau kesalahan umum. Artinya dibalik kebenaran umum masih ditemukan kebenaran sendiri (pribadi) yang bisa jadi saling bertentangan. Hal ini didukung oleh kenyataan alamiah – seperti yang dikatakan dalam pepatah bijak bahwa orang tidak akan mampu mencapai kebenaran dari keseluruhan dimensi tetapi tidak juga menemukan kesalahan dalam tiap dimensi.

Dengan kata lain, sampai kapan pun orang tidak akan kesulitan menemukan alasan mengapa ia memilih cara perang dalam merealisasikan keinginannya selama yang menjadi substansi alasan adalah perbedaan, rasa cinta diri, dan alasan kebenaran sendiri.

Solusi
Menyatakan kebenaran menyimpan makna perjuangan dengan kualitas cara dan materi yang lebih baik dan sebaliknya membenarkan kenyataan adalah indikasi kepasrahan, jembatan realisasi paling bawah. Perang adalah cara yang ditempuh untuk ‘membenarkan’ kenyataan alamiah. Lalu solusi apa yang diberikan oleh peradaban?

a. Semangat
Peradaban didatangkan sama sekali bukan menolak kenyataan alamiah di mana perbedaan tebing harus dijadikan persamaan tebing, tetapi semata merupakan ajakan untuk memperbaiki pilihan cara dalam menyelesaikan perbedaan itu. Cara memiliki korelasi dengan semangat. Untuk menciptakan perdamaian tidak perlu menghitung aspek persamaan tetapi cukup mengawalinya dengan semangat damai kemudian memilih cara damai. Biasanya di tingkat manapun, sebelum benar-benar terjadi peperangan secara fisik pasti terlebih dahulu diawali dengan perang isu tentang suatu persoalan yang dipertentangkan. Karena isunya berupa pertentangan, maka secara reaktif orang terhanyut dalam semangat melawan yang mempengaruhi pilihan terhadap cara yang ditempuh.

Dengan alasan semangat inilah peradaban modern [baca: maju] terus berupaya meneriakkan ajakan untuk memilih jembatan kedua atau ketiga: jembatan humanistic dan rationalistic. Teriakan itu menawarkan aplikasi slogan “Learning” berupa demokrasi, diplomasi, negosiasi dan masih banyak lagi. Dikatakan Learning karena mengandung makna “menjadikan sesuatu” yang berarti hanya diberikan kepada komunitas manusia yang memiliki kemampuan memilih dan memperbaiki pilihan. Hewan tidak mengenal ajaran negosiasi kepentingan.

Di sisi lain, peradaban juga tidak menghapus kenyataan adanya perang suci dan perang kotor yang dahulu sama-sama diwujudkan dengan perang fisik. Tetapi dengan semangat perdamaian, memperbaiki pilihan cara, dan perkembangan peradaban, maka slogan peradaban di atas menjadi cara memilih yang membedakan materi substansial antara perang suci dan kotor. Sebab kesucian material yang ditempuh dengan cara yang kotor – jembatan hewaniah maka akan sangat mungkin menghasilkan kreasi yang kotor pula.

b. Realisasi Misi
Peradaban juga sama sekali tidak menolak bahwa orang sudah dikodratkan untuk lebih mencintai dirinya tetapi bagaimana rasa cinta diri yang begitu besar itu tidak menjadi senjata menciptakan egoisme posisi semata. Sebagai ganti peradaban menawarkan pilihan berupa realisasi misi yang berarti mengganti pertentangan akibat perbedaan dengan menciptakan kesepakatan sinergis dari perbedaan itu untuk menciptakan kreasi ketiga yang lebih unggul.

Orang dipanggil atasan karena memiliki bawahan. Meskipun secara posisi berbeda, tetapi kalau perbedaan itu dijadikan materi pertentangan, maka dengan sendirinya realisasi misi terhalang. Sekeras apapun atasan berteriak menaikkan ‘penjualan’ tetapi kalau di tingkat bawah justru menciptakan perilaku yang menjauhkan pelanggan, maka tidak terjadi kesepakatan sinergis dengan perbedaan posisi itu.

Sudah menjadi kodrat, rasa cinta diri yang begitu besar akan memunculkan dorongan untuk mendapatkan banyak hal: kekayaan, kepintaran atau kemenangan. Dan semua itu benar. Tetapi yang dilarang oleh peradaban adalah anda menjadi kaya dengan cara membuat orang lain miskin; menjadi pintar yang mengambil posisi berlawanan dengan orang lain yang bodoh; menjadi atasan yang berlawanan dengan bawahan. Posisi berlawanan akan menciptakan pertahanan egoisme yang berarti saling membuat kerugian dan saling merusak misi.

c. Kemaslahatan
Sudut pandang personal berperan seperti pisau. Satu sisi ia dapat memperkokoh pendirian sehingga membuat orang tetap tegar menjalani hidupnya dalam arti positif, tetapi di sisi yang berbeda, atas nama egoisme dan watak hewaniah, sudut pandang pribadi menghasilkan kebenaran sendiri yang memacu tindakan demi kepentingan sendiri. Hukum formal baru akan berbicara ketika tindakan tersebut merugikan orang lain secara riil. Tetapi kembali lagi, hukum formal adalah kreasi manusia yang bisa ditemukan sudut pandang hukum formal lain yang menjadi lawannya untuk menghasilkan kebenaran sendiri mengingat hukum formal baru membahas tatanan dengan standard minimal.

Sebagai pelengkap dari hukum formal tersebut, peradaban mengeluarkan seruan yang tidak lagi berbicara pada level pelanggaran dan hukuman melainkan kuantitas dan kualitas kemaslahatan. Untuk mengatakan salah-benar suatu tindakan manusia tidak cukup hanya dengan standard kebenaran hukum formal yang bisa direkayasa atau kebenaran sendiri yang egoisme tetapi perlu melibatkan hukum peradaban kemanusiaan yang mempunyai standard kemaslahatan.

Ulasan singkat di atas bisa dijadikan bahan refleksi diri bahwa selama ini yang banyak menyedot perhatian kita adalah perang di tingkat antarpribadi. Di sisi lain kita tidak bisa melupakan kenyataan bahwa bukankan semua yang terjadi di luar diawali dari sesuatu yang terjadi di dalam? Perang juga terjadi di dalam diri kita pribadi. Perang, baik terjadi pada tingat antarpribadi dan di dalam pribadi, tidak bisa dikatakan dampak buruknya lebih ringan atau lebih berat. Bedanya, perang fisik di luar menghasilkan korban berupa nyawa dan bangunan yang runtuh tetapi perang di dalam diri akan mengorbankan misi, kemaslahatan, dan cara meraih cita-cita yang lebih panjang dan banyak menguras tenaga, waktu dan pikiran yang pada saat bersamaan masalah hidup yang lain tetap saja muncul. Semoga bisa menjadi bahan renungan. (jp)

Artikel ini pertama kali ditayangkan di http://www.e_psikologi.com pada tanggal 16 April 2003.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s