Antara Motivator dan Inspirator

Posted: April 12, 2013 in My Dokument

“Wah, ini dia Kak Arry sang motivator!” Mendengar orang atau teman saya berucap seperti itu saat bertemu dengan saya, saya hanya tersenyum saja. Alhamdulillah, apa yang saya cita-citakan dan perjuangkan dari dulu sudah membuahkan hasil saat ini. Ya, dulu saya bercita-cita untuk menjadi seorang yang mampu memotivasi orang lain menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya. Cita-cita itu sudah ada sejak tahun 2007.

Sampai suatu saat saya mendapatkan sebuah ‘sentilan’ dari salah satu mentor saya. Menurut saya beliau adalah seorang yang sangat luar biasa dalam menumbuhkan semangat bagi orang-orang sekelilingnya. Tetapi, beliau tidak mau disebut sebagai seorang motivator. Mengapa?

Saya akhirnya memahami sebuah hal yang sangat penting dalam mengemban profesi ini sejak 5 tahun lalu. Puluhan bahkan ratusan motivator lahir dan hadir setiap bulan di Indonesia. Saya banyak mengenal baik di antara mereka karena dulu sempat berjuang bersama-sama. Logikanya adalah, semakin banyak motivator yang muncul, seharusnya bangsa ini juga semakin baik. Namun apa yang terjadi?

Yang terjadi kemudian dalam pengamatan saya, banyak sekali motivator yang hanya ‘bisa bicara’. Banyak sekali motivator yang hanya bisa menyampaikan teori-teori hampa tentang motivasi. Banyak sekali motivator yang hanya bisa tampil seperti malaikat penyuntik motivasi di panggung, tetapi secara karakter dan prestasi: nol.

Lantas yang terjadi kemudian adalah banyak sekali motivator-motivator muda yang tenggelam. Cepat lahir, namun cepat juga mati. Mereka adalah orang-orang yang belum bisa membuktikan apa yang mereka katakan. Mereka adalah orang-orang yang hanya bisa berbicara. Mereka adalah orang-orang yang belum teruji.

Saya pun kemudian berpikir dan memahami mengapa mentor saya tidak mau disebut sebagai motivator, walaupun memang belum tentu semua motivator seperti itu. Saya pun akhirnya menjadi malu sendiri saat disebut sebagai seorang motivator. Menurut saya, 5 tahun menjalani dunia pelatihan dan juga motivasi, ada 3 syarat yang harus dipenuhi oleh trainer: niat lurus, karakter, dan prestasi nyata.

Pertama, niat lurus. Apa sih sebenarnya niat kita menjadi seorang trainer? Beberapa motivator yang saya kenal, hanya sebatas ingin menjadi orang yang populer, kaya, dan mengakselerasi bisnis mereka. Menurut saya itu tidak masalah, namun niat seperti menurut saya terlalu ‘cetek’. Beberapa trainer yang saya kenal masih konsisten hingga saat ini terus berjuang karena niat mereka hanya satu: menginspirasi dan menciptakan perubahan bangsa sebagai salah satu bentuk pengabdian kepada Allah karena telah diciptakan di dunia.

“Dan sungguh Tuhanmu mengetahui apa yang disembunyikan dalam dada mereka dan apa yang mereka nyatakan.” (Alqashash : 69)

Kedua, karakter. Seorang trainer adalah mereka yang tidak pernah berhenti untuk senantiasa belajar. Seorang trainer adalah mereka yang dituntut untuk memiliki integritas yang tinggi. Seorang trainer adalah seorang teladan. Seorang trainer adalah mereka yang mengamalkan apa yang mereka ucapkan. Karakter seperti inilah salah satu hal yang paling sulit untuk diterapkan oleh para trainer. Namun, di sinilah letak kunci seorang trainer sesungguhnya dan trainer yang hanya sekedar topeng belaka. Allah juga menegur perihal tentang menyebarkan ilmu, menyeru kepada kebaikan atau dakwah. Bahwasanya Allah membenci orang-orang yang berkata sedangkan dia sendiri tidak mengamalkannya. (dalam surat as-shaf:2-3).

Ketiga, prestasi. Karakter adalah kunci penting, namun tanpa prestasi atau catatan emas pun menjadi tidak berarti. Niat yang lurus disertai dengan karakter jika dipadukan maksimal akan menghasilkan prestasi-prestasi besar. Sebagai seorang trainer yang memberikan pelatihan tentang menulis, maka memang seharusnya dia adalah orang yang kompeten dan memiliki prestasi dalam menulis. Bagi mereka yang mengadakan pelatihan tentang belajar cerdas, maka semestinya orang yang melatih adalah mereka yang memiliki catatan gemilang dalam bidang akademik atau non-akademiknya. Menjadi seorang yang berprestasi mampu meningkatkan pengaruh seorang trainer dalam mengajak kebaikan orang-orang yang dilatihnya.

Menguasai ketiga hal di atas itulah yang kemudian saya sebut sebagai inspirator. Ya, saya lebih suka disebut sebagai seorang inspirator, dibandingkan hanya sekedar motivator. Inspirator adalah mereka yang mampu menjadi penggerak karena mereka sudah membuktikannya, sehingga orang-orang terinspirasi untuk melakukan hal yang sama.

CerdasMulia Leadership and Training Center yang saya dirikan salah satunya selalu menjaga 3 hal di atas dalam menumbuhkan kapasitas trainer untuk menjadi seorang inspirator. Berangkat dari ketiga hal itulah alhamdulillah semakin lama CerdasMulia semakin besar dalam melaksanakan 3 misinya: Inspire, Transform, and Change.

Jadi, Anda ingin menjadi seorang motivator atau inspirator? Saya memilih yang kedua. Bagaimana dengan Anda?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s