Sejarah Kitab Jurumiyah dan Makna Filosofis Ilmu Nahwu

Posted: February 1, 2013 in My Dokument
Tags:

ﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ

Dalam kitab “Al Kawakib Al Durriyah diceritakan, Syeikh Imam Al-Sonhaji, pengarang sebuah kitab nahwu, tatkala telah rampung menulis sebuah buku tentang kaidah nahwu yang ditulisnya dengan menggunakan sebuah tinta, beliau mempunyai azam untuk meletakkan karyanya tersebut di dalam air. Dengan segala sifat kewara’annya dan ketawakkalannya yang tinggi, beliau berkata dalam dirinya: “Ya Allah jika saja karyaku ini akan bermanfaat, maka jadikanlah tinta yang aku pakai untuk menulis ini tidak luntur di dalam air”. Ajaib, ternyata tinta yang tertulis pada lembaran kertas tersebut tidak luntur. Dalam riwayat lain disebutkan, ketika beliau merampungkan karya tulisnya tersebut, beliau berazam akan menenggelamkan tulisannya tersebut dalam air mengalir, dan jika kitab itu

terbawa arus air berarti karya itu kurang bermanfaat. Namun bila ia tahan terhadap arus air, maka berarti ia akan tetap bertahan dikaji orang dan bermanfaat. Sambil meletakkan kitab itu pada air mengalir, beliau berkata : “Juruu Miyaah, juruu miyaah” (mengalirlah wahai air!). Anehnya, setelah kitab itu diletakkan pada air mengalir, kitab yang baru ditulis itu tetap pada tempatnya. Itulah kitab matan “Al-Jurumiyah” karya Imam Al Sonhaji yang masih dipelajari hingga kini. Sebuah kitab kecil dan ringkas namun

padat yang berisi kaidah-kaidah

ilmu nahwu dan menjadi kitab

rujukan para pelajar pemula

dalam mendalami ilmu nahwu

(kaidah bahasa Arab) di berbagai

dunia. Selain ringkas, kitab

mungil ini juga mudah dihafal

oleh para pelajar. Di sini penulistidak hendak mengemukakan kaidah ilmu nahwu dengan

segala pembagiannya. Yang akan penulis kemukakan adalah, bahwa di dalam kitab yang

melulu membahas tata bahasa

Arab, ternyata kalau dikaji lebih

dalam lagi, ia memiliki filsafat-

filsaf at hidup dan nasehat yang

sangat berharga bagi setiap

generasi terutama bagi kita

sebagai ummat Islam. Filsafat

hidup yang termaktub dalam

kitab itu sendiri merupakan

“hukum” atas suatu kalam atau

kalimat dalam ilmu nahwu.

Berikut ini adalah contohnya:

Bersatu kita terhormat Dalam

ilmu nahwu, “dhommah” adalah

salah satu tanda dari tanda-

tanda “rofa’”. Secara lafdziah

kata dhommah berarti bersatu.

Sedang kata rofa’berarti tinggi.

Maksudnya, bila kita dapat

bersatu dengan sesama, dapat

menjaga kesatuan dan

persatuan, dapat mempererat tali

ukhuwah, bukan tidak mungkin

kita akan menjadi umat yang

terhormat dan tinggi (rofa’) di

antara bangsa dan umat lain. Hal

ini sesuai dengan firman Allah

SWT :”Bersatulah kalian pada tali

(agama) Allah, dan janganlah

kalian berpecah belah” (Ali

Imran: 103). Sementara untuk

mendapatkan derajat tinggi

harus memenuhi syarat, di

antaranya adalah iman. Firman

Allah SWT: “Janganlah kalian

merasa hina dan sedih, padahal

kamu tinggi jika kamu beriman

(Ali Imran: 139). Ada beberapa

keriteria sehingga orang bisa

mendapatkan derajat

rofa’ (tinggi). Sebagaimana

dijelaskan dalam Al Jurumiyah,

bahwa di antara kedudukan

kalimat yang mendapat hukum

rofa’ atau marfu’ (yang diberi

penghargaan tinggi) adalah: fa’il,

naib fa’il, mubtada’, khobar dan

tawabi’ marfu’(sesuatu yang

mengikuti segala kalimat marfu’)

seperti sifat (na’t), badal, taukid

dan ‘atof.

Hal ini dapat dijelaskan

sebagai berikut:

1. Fa’il (aktivis).

Bila kita ingin menjadi orang

yang dihargai, tinggi dan tidak

terhina, maka hendaklah kita

berbuat, bekerja dan berusaha,

tidak berpangku tangan atau

hanya mengharap belas kasih

orang lain. Hanya orang yang

aktif dan pro aktiflah (fa’il) yang

membuahkan karya-karya dan

amal dan menjadi terhormat di

lingkungannya. Firman Allah SWT:

“Dan katakanlah (hai

Muhammad): Bekerjalah kalian!

sesungguhnya pekerjaan kalian

akan dilihat oleh Allah, RasulNya

dan kaum mu’minin” (At

Taubah : 105). Sabda Nabi

Muhammad SAW: “ tangan di

atas (pemberi) lebih baik dari

tangan di bawah(peminta)” .

2.Naib fa’il

mewakili tugas-tugas

aktivis adalah tipe kedua orang

yang mendapat derajat tinggi.

Meskipun ia berkedudukan

sebagai wakil, tapi ia

menjalankan pekerjaan yang

dilakukan fa’il walau harus

menjadi penderita dalam

kedudukannya sebagai kalimat.

Sebagai contoh dalam hal ini

adalah sahabat Ali ra. Beliau

pernah menggantikan Rasulullah

di tempat tidurnya dengan resiko

yang tinggi berupa pembunuhan

yang akan dilakukan para

pemuda musyrikin Makkah saat

Rasulullah berencana

melaksanakan hijrah ke Madinah.

Contoh lain adalah para huffadz

yang diutus Rasulullah untuk

mengajarkan agama atas

permintaan salah satu suku di

jazirah Arab, namun nasib

mereka naas dikhianati dan

dibunuh para pengundang.

Mendengar hal itu, Rasulullah

pun membacakan do’a qunut

nazilah sebagi rasa ta’ziyah.

Dengan do’a dari Rasul tersebut,

tentu saja mereka yang wafat

mendapat kedudukan mulia di

sisi Allah, juga oleh sejarah.

3.Mubtada (pioneer),

orang yangpertama melahirkan ide-ide

positif kemudian

diaplikasikanny a di tengah-

tengah masyarakat sehingga

berguna bagi kehidupan

manusia adalah orang yang

pantas mendapat derajat

rofa’ (tinggi). Oleh karena itu

Rasulullah SAW bersabda: “

Barang siapa memulai sunnah

hasanah (ide positif dan

konstruktif) maka baginya pahala

dan pahala orang yang

melakukan ide (sunnah)

tersebut”. Ada pepatah Arab

:mengatakan demikian ﺍﻟﻔﻀﻞ

ﻟﻠﻤﺒﺘﺪﺉ ﻭﺍﻥ ﺃﺣﺴﻦ ﺍﻟﻤﻘﺘﺪﻯ

“Perhargaan itu hanyalah milik

orang pertama memulai,

walaupun orang yang datang

kemudian dapat melakukannya

lebih baik”

4. Khobar (informasi).

Mereka yang

memiliki khobar (informasi)

itulah orang yang menguasai.

Demikian salah satu ungkapan

dalam ilmu komunikasi. Di dunia

ini sebenarnya tidak ada orang

yang lebih banyak ilmunya dari

seorang lain. Yang ada adalah

karena orang itu lebih banyak

mendapatkan dan menyerap

informasi dari lainnya. Membaca

buku, apapun buku itu,

sebenarnya kita sedang

menyerap sebuah informasi. Dan

sebanyak itu informasi yang kita

dapatkan sebesar itu pula kadar

maqam kita. Informasi dapat kita

peroleh melalui berbagai cara,

termasuk di dalamnya

pengalaman.

5. Tawabi’Marfu’

(Mereka yang mengikuti

jejak langkah orang yang

mendapat derajar tinggi). Jelas,

siapa saja yang mengikuti

langkah dan perjuangan mereka

yang mendapat derajat tinggi,

maka mereka akan dihargai.

Allah berfirman: “Sungguh dalam

diri Rasulullah ada suri tauladan

yang patut ditiru bagimu”. Ayat

ini menegaskan kepada kita

untuk mengikuti Rasulullah yang

telah mendapatkan maqoman

mahmuda (kedudukan terpuji) di

sisi Allah agar kita mendapat hal

yang sama di sisiNya. Di samping

itu, salah satu orang yang akan

mendapat derajat tinggi adalah

para penuntut ilmu. Firman Allah

SWT : “Allah akan mengangkat

orang-orang yang beriman di

antara kamu dan mereka yang

diberi ilmu dengan beberapa

derajat” (Al Mujadalah: 11).

Ilmu adalah warisan para nabi, dan

siapa yang mengikuti (tabi’)

langkah nabi ia akan mendapat

kehormatan (rofa’) Berpecah

Belah Adalah Kerendahan Tanda

kasroh dalam ilmu nahwu adalah

salah satu tanda hukum khofadh.

Secara harfiah, kata kasroh

bermakna pecah atau

perpecahan. Sedangkan kata

khofadh bermakna kerendahan

atau kehinaan. Dengan demikian

suatu umat akan mengalami

kerendahan dan kehinaan

apabila mereka melakukan

perpecahan, tidak bersatu dan

tidak berukhuwah. Wajar saja

bila para musuh menyantap

dengan lahapnya kekayaan kaum

(muslimin) disebabkan mereka

tidak mau bersatu dan menjaga

persatuan.

Inilah yang pernah

dikhawatirkan oleh Nabi

Muhammad SAW empat belas

abad lalu, tatkala beliau

menyatakan bahwa suatu saat

umat Islam akan menjadi

santapan umat lain seperti

srigala sedang menyantap

makanan. Para sahabat bertanya:

“Apakah saat itu jumlah kita

sedikit ?” Rasul menjawab:

“Tidak, justru kalian saat itu

menjadi mayoritas, tapi kualitas

kalian seperti buih. Sungguh

Allah akan mencabut rasa takut

dari musush-musuh kalian

kepada kalian dan Allah akan

mencampakkan dalam diri kalian

penyakit al-wahan”. Sahabat

bertanya: “apakah penyakit al-

wahan itu?” Rasul SAW

menjawab: “cinta dunia dan

takut mati”. Dengan penyakit

itulah, umat Islam mengalami

perpecahan. Sebab yang

diperjuangkan bukan lagi agama

mereka, tetapi materi dan

keduniaan yang pada akhirnya

tidak lagi mengindahkan

kekompakkan dan persatuan di

antara sesama ummat Islam. Di

samping itu sifat buih, seberapa

banyak dan sebesar apapun, ia

akan terombang-ambin g oleh

angin yang meniupnya. Itulah

tamsil umat Islam yang tidak

memperkokoh persatuan.

Hal inilah yang diisyaratkan oleh Al-

Sonhaji, bahwa penyebab segala

isim (nama) menjadi makhfudh

(rendah dan hina) adalah karena

tunduk dan ikut-ikutan terhadap

huruf khofad (faktor

kerendahan). Atau dalam istilah

nahwu lain, isim menjadi majrur

(objek yang terseret-seret/

mengikuti arus) karena

disebabkan mengikuti huruf jar

(faktor yang menyeret-menyer

etnya) . Karena itu, hendaknya

ummat Islam selalu menjadi ikan

hidup di tengah samudera.

Meskipun air samudera terasa

asin, namun sang ikan hidup

tetap terasa tawar. Sebaliknya,

jika ummat ini bagaikan ikan

mati, maka ia dapat diperbuat

apa saja sesuai keinginan orang

lain. Bila diberi garam ia akan

menjadi ikan asin dan lain

sebagainya. Berusahalah, Maka Jalan Akan Terbuka Dalam kaidah

ilmu nahwu, di antara tanda nashob adalah fathah. Secara lafdziah, kata nashob bermakna bekerja dan berpayah-payah. Sedang kata fathah bermakna terbuka. Dalam hal ini, maka mereka yang mau bekerja dan berupaya serta berpayah-payah (nashob) dalam usaha, maka mereka akan mendapatkan jalan yang terbuka (fathah). Sesulit apapun problem yang dihadapi, jika berusaha dan berpayah- payah untuk mengatasinya, maka insya Allah akan menemukan jalan keluarnya. Oleh karena itu Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Aku tidak akan menyia-nyiakan amal orang yang berbuat di antara kalian dari laki- laki dan wanita”. (Ali Imran: 195). Dalam Kitab Diwan As-Syafi’i. Imam Syafi’i pernah menulis bait :syair sebagai berikut

ﺳﺎﻓﺮ ﺗﺠﺪ ﻋﻮﺿﺎ ﻋﻤﻦ ﺗﻔﺎﺭﻗﻪ # ﻭﺍﻧﺼﺐ ﻓﺎﻥ ﻟﺬﻳﺬ ﺍﻟﻌﻴﺶ ﻓﻰ ﺍﻟﻨﺼﺐ ﺍﻧﻲ ﺭﺃﻳﺖ ﻭﻗﻮﻑ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﻳﻔﺴﺪﻩ # ﺍﻥ ﺳﺎﻝ ﻃﺎﺏ ﻭﺍﻥ ﻟﻢ ﻳﺠﺮ ﻟﻢ ﻳﻄﺐ

Pergilah bermusafir, maka anda akan dapatkan pengganti orang yang anda tinggalkan Bersusah payahlah !, karena kenikmatan hidup ini didapat dengan bersusah payah (nashob). Sungguh aku menyaksikan mandeg-nya air dapat merusakkan dirinya Namun bila ia mengalir ia menjadi baik. Dan jika menggenang ia jadi tidak baik. Dalam bait syair ini, Imam Syafi’i ingin menegaskan, bahwa orang yang berpangku tangan dan tidak mau bekerja keras akan menjadi rusak, bagaikan rusaknya air yang tergenang sehingga menjadi comberan yang kotor dan bau. Sebaliknya, bila ia mau bersusah payah dan bergerak maka ia bagaikan air jernih yang mengalir. Indahnya kenikmatan hidup ini terletak pada bersusah payah. Bahkan al-Quran mengisyaratkan kepada kita untuk tidak berpangku tangan di tengah waktu-waktu senggang kita. Bila usai melakukan satu pekerjaan, cepatlah melakukan hal lain. :Firman Allah SWT ﻓﺎﺫﺍ ﻓﺮﻏﺖ ﻓﺎﻧﺼﺐ “Dan jika kamu selesai (melakukan tugas), maka lakukanlah tugas lain (nashob)” (Al Insyiroh: 7). Kepastian Akan Menimbulkan Rasa Tenang Kaidah lain yang terdapat dalam ilmu nahwu adalah, bahwa di antara tanda jazm adalah sukun. Secara lafdziah, kata jazm bermakna kepastian. Sedang kata sukun berarti ketenangan. Ini mengajarkan kepada kita, bahwa kepastian (jazm) akan melahirkan rasa ketenangan (sukun). Orang yang tidak mendapatkan kepastian dalam suatu urusan biasanya akan merasakan kegelisahan. Sebagai contoh seorang remaja yang ingin melamar seorang gadis kemudian tidak mendapatkan kepastian, dia akan mengalami kegelisahan. Demikian juga orang yang hidupnya sendiri, ia tidak mendapatkan ketenangan. Oleh karena itu Allah SWT mengisyaratkan kita agar mempunyai teman pendamping dalam hidup ini agar mendapat :ketenangan. Firman Allah SWT ﻭﻣﻦ ﺁﻳﺎﺗﻪ ﺍﻥ ﺧﻠﻖ ﻟﻜﻢ ﻣﻦ ﺃﻧﻔﺴﻜﻢ ﺃﺯﻭﺍﺟﺎ ﻟﺘﺴﻜﻨﻮﺍ ﺍﻟﻴﻬﺎ “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan Allah adalah Ia menjadikan bagimu pasangan dari jenismu (manusia) agar kalian merasa tenteram kepadanya” (Ar Rum: 21).

Wallahu’alam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s