SEJARAH SINGKAT BERDIRINYA PONDOK PESANTREN “AL FUTUHIYYAH”

 
     SEJARAH SINGKAT BERDIRINYA PONDOK PESANTREN “AL FUTUHIYYAH”    
                        Pada akhir tahun 1938 M, Nahdhatul Ulama yang  berdiri pada tahun 1926, sesuai dengan tujuan pembentukannya salah satunya berikhtiar memperbanyak madrasah-madrasah, yaitu Madrasah Awaliah 2 tahun, Madrasah Ibtidaiyah 3 tahun, Madrasah Tsanawiah 3 tahun, Madrasah Mu’aliimin Ulya 3 Tahun. Madrasah-madrasah ini didirikan Di tingkat cabang sampai tingkat ranting Nadhatul Ulama, termasuk di Wonosobo  yang memiliki tidak kurang 75 Madrasah ibtidaiyyah dan Madrasah tsanawiyyah dan Madrasah Mu’alimiin.
            Satu diantaranya adalah madrasah mu’alimin NU. Bermula pada tahun 1951, KH. Masykur Bin Abdul Hamid mendirikan madrasah dengan luas 240 m2 dengan fasilitas tersebut  dibangun menjadi gedung madrasah dengan luas 240 m2 dengan fasilitas tersebut, KH. Masykur membuka pengajian umum. Pada saat itu, terdapat dua lokal asrama yang terdiri dari 6 kamar, 1 unit WC, kolam dan gedung musolla. Melihat perkembangan minat belajar masyarakat sekitar, maka pada tahun 1954 dibukalah Madrasah Mu’allimin NU yang dipimpin langsung oleh Bpk. KH. Masykur dengan menggunakan Gedung Madrasah  yang selama ini dijadikan tempat pengajian umum di dusun Bumen, Bumirejo, Mojotengah, Wonosobo. Berjalan selama 3 tahun kemudian pada tahun 1957, atas dasar petunjuk Badan musyawirin berdirinya Madrasah, Madrasah tersebut dipindahkan di kampung kauman, Kota Wonosobo dengan pertimbangan :
1.      Agar Madrasah tersebut dipindahkan ke tempat yang strategis.
2.      Kesulitannya untuk mendapatkan informasi yang merekrut guru.
                        Madrasah ini hanya bertahan selama enam tahun, meskipun demikian telah menghasilkan alumni yang sampai saat ini sebagian besar menjadi tokoh-tokoh besar di Wonosobo, dan kini gedung tersebut telah dibangun untuk kantor NU cabang Wonosobo. Adapun gedung yang semula digunakan untuk Madrasah Mu’allimin NU dipindah menjadi tempat pengajian umum.
                        Pada tanggal 13 Januari 1963, beliau Bapak KH. Masykur bersedia untuk mendoktrin para kader BANSER (Barisan Serba Guna) NU, disinilah terlihat kepedulian para Ulama melihat kondisi bangsa Indonesia saai itu. Tepat pada tanggal 30 September 1965, terujilah kejelian para Ulama yang dimotori oleh KH. Masykur yaitu terjadinya G 30 S PKI, Pada saat itu peranan Ulama Dan BANSER sangat besar dalam mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
                        Pada Tahun 1973 Di kompleks Pengajian umum tersebut didirikan pondok pesantren “Al Futuhiyyah” Bumen, dengan KH. Masykur sebagai pengasuh. Sistem pendidikan yang dipergunakan adalah tradisional, yaitu sorogan dan bandongan. Bapak KH. Masykur meninggal dunia pada tahun 1981, pada saat itu, Wonosobo benar-benar kehilangan  seorang tokoh besar, yang sangat berperan dalam memajukan pendidikan islam di Wonosobo, tak ada seorangpun yang tidak merasa kehilangan beliau karena suri tauladan beliau.
                        Atas dasar musyawarah keluarga, pesantren dipimpin oleh Bapak KH. Munir Abdullah. Pembangunan terus ditingkatkan, hasilnya pada tahun1983 berhasil mendirikan Mardasah Tsanawiyah putra, dan pada tahun 1983 mendirikan Pesantren putri serta Madrasah Tsanawiah putri yang tempat belajarnya terpisah dengan putra. Pada tahun 1991, Bapak KH. Munir Abdullah meninggal dunia. Wonosobo kembali kehilangan satu tokoh Ulama yang sangat berperan dalam memajukan pendidikan islam di Wonosobo.
                        Kemudian Pondok Pesantren Al Futuhiyyah dipimpin oleh Bapak KH. Ahmad Rofiq Masykur bin Bapak KH. Masykur. Sedangkan Madrasah Diniyah Al Futuhiyyah dipimpin oleh K Mukhlas Masykur, adik kandung Bapak KH. Rofiq Masykur, dan Madrasah Tsanawiyyah diteruskan oleh Bapak Muhammad Syamsi. Dari tahun ke tahun Pondok Pesantren dan Madrasah Tsanawiyyah  Al Futuhiyyah terus berkembang. Pada tahun 2003 Kepala Mts Al futuhiyyah diganti oleh Bapak Munangim. Kemuian digantikan oleh H. Abdullah Mubarok, Lc. Yang baru menyelesaikan studi S1 di Cairo, Mesir. Atas gagasan yang inovatif dari bapak KH. Ahmad Rofiq Masykur dan H Abdullah Mubarok, Lc, pesantren dan Mts Alfutuhiyyah berkembang sangat pesat bahkan pada tahun 2006 para pemimpin tersebut telah berhasil sampai saat ini pembangunan Pondok Pesantren Al Futuhiyyah masih terus ditingkatkan.

Aside  —  Posted: January 23, 2014 in My Dokument

 

Kisah sang penakluk wilayah Thespiae di Boetia yang dianugerahi ketampanan, Narcissus, Narkissos atau Sang Pemuja Diri Sendiri

Beberapa versi kisah Narcissus salah satunya oleh Ovid dalam ‘Echo’. Narcissus yang sedang berburu kijang di hutan merasa haus dan mengambil air di sebuah sungai, namun ia tak bisa menyentuh air itu karena takut merusak bayangan yang ada pada permukaan air. Narcissus meninggal dengan memandangi bayangannya sendiri dan tumbuhlah bunga Narcissus di tempat ia meninggal.  

Namun Pausanias (seorang ahli geografi dan traveller dari Mesir, hidup pada abad kedua Masehi) menolak kisah seseorang yang tidak mampu membedakan manusia nyata dan bayangan, menurutnya Narcissus jatuh cinta pada saudara kembar perempuannya, yang mengenakan pakaian sama dengan Narcissus ketika berburu di hutan. Ketika saudara kembarnya meninggal, Narcissus sangat terpukul dan menganggap bayangan yang ia lihat di permukaan air itu adalah saudara kembarnya (www.wikipedia.com).

Kita yang tinggal di kota besar di Indonesia tentunya tidak akan sanggup mengambil air di sungai untuk minum, bukan karena ada bayangan yang mempesona, pastinya. Namun jaman sekarang kita tidak perlu sungai untuk bercermin, karena makin hari gambaran diri kita makin jelas, tebal dan kongkrit, menutupi inti sari diri yang makin tidak jelas. 

Ada yang menganggap bahwa orang narsis itu menyebalkan dan berdampingan dengan orang narsis rasanya tidak menyenangkan karena atmosfernya penuh dengan persaingan, kesombongan, dsb regardless orang-orang narsis ini dari luar tampak punya rasa percaya diri yang besar. Menarik untuk kita lihat pemahaman narsis ini lebih jauh, karena dalam psikologi klinis dikenal pula istilahNarcissistic Personality Disorder. Dalam bahasa umum, orang narsisistik adalah orang yang menjadikan dirinya pusat dari segalanya.

The narcissist becomes his own world and believes the whole world is him
(Theodore I. Rubin)

Ia memiliki penilaian berlebih pada dirinya dalam skala ekstra besar, sehingga meresahkan, mengganggu kehidupan sosial sekelilingnya. Namun, gejala narsis ini pun dapat berlaku di masyarakat luas. Agar tidak selalu menebak, ada baiknya kita menengok definisi teoritik dan studi empirik dalam psikologi.

Narisisisme dalam studi psikologi
Dimensi kepribadian narsistik berasal dari kriteria narsistik dalam gangguan kepribadian, namun narsisme yang kita bahas kali ini lebih ditujukan bagi individu yang masih dapat berfungsi secara normal di masyarakat.

Narcissists characterized by a highly positive or inflated self-concept. Narcissists use a range of intrapersonal and interpersonal strategies for maintaining positive self-views.(Campbell, Rudich,& Sedikies , 2002)

Kita melihat kata kunci dalam narsistik yaitu: konsep diri yang terlalu melambung. Alexander Lowen dalam bukunya Narcissism:Denial of The True Self mengatakan bahwa secara psikologis, individu sudah dikatakan narsis jika mencurahkan segenap daya upaya untuk membangun image dengan mengorbankan diri sendiri. Mereka sering menipu diri demi penampilan.

Narcissist are more concerned with how they appear rather than what they feel. Indeed they deny feeling that contradict the image they seek.(Alexander Lowen, 1985)

Konsep diri yang melambung dari orang narsis juga terlihat dari potret mereka seperti yang dideskripsikan Lowen (1985), bahwa tindakan mereka seringkali tanpa dipikir dan dirasa, manipulative, egois, haus kekuasaan dan ingin pegang kendali, tidak jujur dalam membawa diri dan tidak punya integritas.

Sekilas tentang self esteem
Terjadi tumpang tindih antara narsistik dan self-esteem. Seringkali orang menyalahartikan definsi antara keduanya. Yang jelas,narsisme bersifat sebagai ancaman dan merusak karena terbentuk dari penilaian diri yang tidak realistik, rasional dan proporsional, sementara self-esteem (dalam kadar proporsional dan rasional / realistik) justru menguntungkan. Self-esteem merupakan derajat penilaian individu terhadap dirinya sendiri. Individu dengan self-esteem tinggi dan sehat akan menilai dirinya secara positif. Dalam interaksi dengan orang lain, ia biasanya percaya diri, dan cenderung mengarah sebagai orang yang tampil dan pemimpin dalam kelompok.

Ironisnya, individu yang memiliki self-esteem rendah memandang dirinya kurang. Perasaan kurang ini, bisa nyata, bisa persepsi dirinya semata. Bisa jadi sesungguhnya ia memang punya kemampuan dan cemerlang dalam skill tertentu; namun pada saat yang sama kehilangan kepercayaan diri. 

Self defeating behavior
Studi literature menunjukkan individu narsis memiliki perilaku seperti arogan, merendahkan orang lain, merespon ancaman ego dengan kekerasan dan agresivitas, menciptakan atribusi internal bagi kesuksesan (sukses karena kehebatan diri) dan sebaliknya atribusi eksternal ketika menghadapi kegagalan (gagal karena kesalahan lingkungan/pihak di luar diri sendiri), serta menilai masa depan secara berlebihan meski menghadapi kondisi yang tidak mendukung/kondusif.

Individu narsis juga tidak disukai oleh rekan sebaya/kelompoknya (meski biasanya telah menciptakan impresi diri positif) yang secara psikologis merasa dirugikan (Colvin, Block, & Funder, 1995 dalam Vazire & Funder,2006).

“In short, as they yearn and reach for self-affirmation, 
[narcissists] destroy the very relationships on which they are dependent”
(Vazire & Funder, 2006).

 

Narsisime dalam kehidupan sosial 
Salah satu ciri orang narsis adalah sikap yang berlebihan dalam menilai dirinya. Sifat berlebihan ini yang menyeret diri hingga merusak ikatan sosial dan mendistorsi sikap terhadap masa depan terkait pada estimasi (memperkirakan dan membaca rencana suksesnya).

Beberapa studi psikologi yang mengupas narsistik terkait dengan interaksi sosial sebagian besar menggambarkan hubungan yang tidak sehat dan distortedcorrupted karena karakter ini, di antaranya; fantasi tentang ketenaran atau kekuasaan (Raskin & Novacek, 1991 dalam Campbell, et al 2002), merespon kritik dengan kemarahan dan atribusi pencapaian diri (Campbell, Reeder, Sedikides, & Elliot, 2000; Far-well & Wohlwend-Lloyd, 1998; Rhodewalt & Morf,1996 dalam Campbell et al 2002), juga sikap merendahkan orang yang dianggap mengancam (Kernis & Sun, 1994 dalam Keith,2002). Narsistik juga kurang mampu menjaga komitmen dan memberikan perhatian dalam interaksinya dengan orang lain (Campbell, 1999; Campbell & Foster, 2001 dalam Campbell et al, 2002). 

Pada perkembangan lingkungan sosial yang dinamis, kadang kita sering mendengar istilah narsis yang agak bergeser dari makna sesungguhnya. Narsis dalam bahasa gaul, menunjuk pada gaya humor antar individu yang berfungsi untuk mendorong kepercayaan diri dan penilaian diri positif, baik pada si subjek atau lawan bicaranya. Padahal seperti telah di bahas sebelumnya, bahwa seorang yang narsis punya tolok ukur yang tidak rasional-proporsional dalam menilai dirinya, baik secara individual maupun dalam interaksi sosial.

Gambaran individu narsis di atas bukan berarti susah dijumpai di lingkungan sosial kita. Orang-orang ini lebih dikenal sebagai orang sombong, yang cenderung mementingkan dirinya sendiri, menyelamatkan dirinya sendiri, kurang peka bahkan tidak memedulikan orang lain. Sikapnya jauh dari menyenangkan bahkan bisa berbuat kekerasan (seperti kekerasan verbal) demi melindungi egonya yang dirasakan terancam.

Tetapi karakter narsisme tidak begitu saja terlihat dalam waktu singkat. Mungkin salah satu petunjuk kilatnya adalah, ketika menemukan orang yang dengan renyahnya meremehkan atau merendahkan orang lain guna meninggikan dirinya sendiri dalam percakapan. Tentu tidak sekedar dalam nuansa kalimat, tetapi juga dari sikap dan bahasa tubuhnya. Orang yang sensi dan gampang tersinggung kalau di kasih nasehat, apalagi di tegur.

Ciri ini juga dikenal dalam teori outgroup-ingroup di mana salah satu cara untuk meninggikan kelompok adalah dengan merendahkan kelompok lain. Pada kenyataannya, hal ini terkait pada self-esteem diri (kelompok) yang rendah sehingga sangat membutuhkan pihak lain untuk direndahkan/diinjak sehingga ia (kelompok) mendapatkan dampak perasaan lebih baik, lebih tinggi.

Pertanyaan untuk pekerjaan rumah (PR) kita, apakah kita sering menemui orang seperti ini, atau kita lah yang insan narsis di lingkungan kita? Bagaimana dengan kelompok sosial kita, bangsa kita?

Literature

Vazire, Simine., Funder, David C. (2006) Impulsivity and the Self-Defeating Behavior of Narcissists. Personality and Social Psychology Review 2006, Vol. 10, No. 2, 154 -165

Campbell,W. Keith., Rudich,Eric A., Sedikides,Constantine (2002) Narcissism, Self-Esteem, and the Positivity of Self-views: Two Portraits of Self-Love. PSPB, Vol. 28 No. 3, March 2002 358-368 © 2002 by the Society for Personality and Social Psychology, Inc.

http://en.wikipedia.org/wiki/Narcissus/mythology

Menurut Imam Asy-Syirazi Rahimahullah dalam kitab Al-Muhazzab, adalah disunatkan bagi perempuan yang merdeka dan ‘khuntsa’ bersembahyang dengan memakai pakaian yang labuh, panjang dan menutupi seluruh badan hingga kedua kaki, memakai penutup kepala dan leher dari kain yang tebal dan menggunakan telekung (satu kain tebal yang lain).

 

 
 
 
 
 
gambar hiasan – Sembahyang berjemaah
 
 
Disunatkan juga telekung atau pakaian yang di sebelah luar itu tebal, agar tidak membayangkan anggota. Telekung atau pakaian yang di sebelah luar itu dijauhkan atau direnggangkan dari badan seseorang perempuan itu apabila ruku‘ atau sujud, supaya tidak membayangkan pakaian di sebelah dalam. Khatib asy-Syarbini dalam kitab Mughni al-Muhtaj mensyaratkan pakaian (satir) yang digunakan untuk menutup aurat sama ada dalam sembahyang atau luar sembahyang ialah tebal yang boleh menutup anggota aurat. Bahkan ia hendaklah melindungi atau menutup warna kulit daripada dilihat dengan pandangan biasa. Dengan perkataan lain tidak menampakkan atau membayangkan bentuk badan.  Imam Syafi‘e pula mensyaratkan pakaian hendaklah menutup dan menyelubungi seluruh anggota aurat.
 
 
Aurat Wanita Di Dalam Sembahyang
 
1. Bagi Mazhab Syafie, aurat wanita di dalam sembahyang ialah wajib menutup seluruh badan kecuali muka dan tapak tangan. Tiada terkecuali biar pun sembahyang seorang diri atau di tempat gelap atau pun di dalam khemah.
 
2. Makruh menutup muka seperti memakai purdah yang menampakkan kawasan mata dan dahi mengikut sepakat kebanyakan ulamak. Namun satu pendapat di dalam Kifayatul Akhyar, membolehkan memakai purdah seperti yang disebutkan itu bagi mengelakkan pandangan liar lelaki ajnabi di dalam masjid.
3. Batas aurat itu adalah ditutup daripada pandangan sebelah atasnya dan daripada kelilingnya. Tiada pada pandangan daripada bawahnya. Jika dia sujud maka tapak kakinya perlu ditutup dengan pakaian dan tidak boleh terbuka berdasarkan pandangan sekeliling.
 
Berdasarkan syarat-syarat di atas, berikut adalah beberapa contoh-contoh pakaian yang tidak memenuhi syarat-syarat di atas:
1. Pakaian yang berlubang-lubang
Aurat yang boleh dilihat melalui pakaian yang ‘berlubang-lubang’ seperti pakaian yang ditenun dengan jarang, walaupun tebal tetapi masih tidak memenuhi syarat ‘satir’ iaitu menyelubungi dan menutupi keseluruhan aurat.
 
2. Pakaian jarang atau nipis
Maksud yang pakaian yang jarang atau nipis ialah pakaian yang boleh menampakkan warna kulit apabila dipakai. Dengan demikian adalah jelas tidak tercapai maksud ‘as-satir’:
 
(i) Sekiranya di dalam sembahyang pakaian yang nipis atau jarang untuk menutup keseluruhan auratnya tanpa dilapis dengan pakaian lain seperti telekung dan seumpamanya, maka pakaian itu tidak memenuhi syarat ‘satir’ kerana tidak tercapai maksud dan pengertian tebal dan tidak pula menyembunyikan warna kulit.
Ini disandarkan kepada hadis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:
Mafhumnya: “Dari ‘Aisyah Radiallahu ‘anha sesungguhnya Asma’ binti Abi Bakar telah berkunjung kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan dia memakai pakaian yang nipis. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berpaling daripadanya. Baginda bersabda: “Wahai Asma’ sesungguhnya orang perempuan apabila meningkat umur haidh (umur baligh), tidak boleh dilihat padanya kecuali ini… dan ini… Lalu Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun menunjukkan muka dan kedua-dua tapak tangan Baginda.
(Hadis riwayat Abu Daud).
 
As-Sayyid al-Bakri kemudian menyebutkan sesuatu kain atau pakaian meski pun berwarna atau yang dicelup jika ianya jarang dan nipis juga tidak memenuhi syarat as-satir.
 
 
(ii) Begitu juga sekiranya di dalam sembahyang dengan memakai pakaian yang jarang atau nipis untuk menutup keseluruhan auratnya kemudian dia menutup atau melapis lagi pakaian tadi dengan telekung atau yang seumpamanya dan warna kulit masih kelihatan, maka samalah juga hukumnya seperti (i) di atas.
 
 
Selain daripada jenis-jenis pakaian yang telah disebutkan di atas, harus bagi golongan wanita bersembahyang dengan memakai pakaian sutera atau menjadikannya alas atau lapik sembahyang) ketika mengerjakan sembahyang. Manakala memakai pakaian yang mempunyai gambar atau menjadikannya alas sembahyang atau menghadap ke arahnya maka hukumnya adalah makruh.
 
3. Sembahyang Di Dalam Kegelapan
Menurut Ibnu Hajar al-Haitami, kegelapan tidak boleh diertikan sebagai ‘satir’. Oleh yang demikian, adalah tidak sah sembahyang seseorang yang tidak menutup aurat sekalipun dalam gelap.
 
4. Nampak Aurat Sendiri Semasa Bersembahyang
Ketika hendak mengerjakan maka terlihat aurat sendiri atau juga dilihat oleh orang lain semasa sedang sembahyang kerana kecuaian menutupnya, maka hukum sembahyangnya adalah tidak sah. Sekalipun dengan memakai telekung, sedangkan di bahagian leher terbuka luas atau besar sehingga diri sendiri boleh nampak auratnya atau dilihat oleh orang lain ketika dia rukuk atau sujud, maka batallah sembahyangnya. Oleh itu hendaklah dirapikan, dikancing atau diikat terlebih dahulu dengan sempurna di bahagian leher yang terbuka tadi serta ‘pastikan dagu’ ditutup rapi sebelum mengerjakan sembahyang.
 
 
Sekiranya mendapati pakaian yang dipakai untuk bersembahyang itu berlubang atau koyak yang menampakkan auratnya, maka wajiblah diulangi atau dimulai semula sembahyang yang sedang dikerjakan, sama ada mengetahui tentang koyaknya kemudian dia terlupa mengenainya ataupun langsung tidak mengetahuinya. Akan tetapi jika dia menyangka bahawa koyak itu terjadi selepas memberi salam, maka tidak perlulah diulangi sembahyang yang telah dilakukan tanpa khilaf.
 
5. Syarat aurat itu juga meliputi kain yang dipakai hendaklah tidak nipis sehingga menampakkan warna kulit atau warna rambut.

 

6. Aurat yang terbuka kerana ditiup angin tidak membatalkan solat yang didirikan dengan syarat ditutup dengan segera bahagian terbuka itu tidak melebihi kadar waktu melafazkan ‘Subhanaallah’. (Sama juga halnya ketika sedang sujud, kemudian terasa atau didapati tapak kaki terbuka maka hendaklah ditutup segera dengan tidak melebihi kadar waktu melafazkan ‘Subhanallah’ dan teruskan sehingga sempurna solat yang didirikan. Sekiranya terbuka atau terselak juga (maknanya kain itu pendek tidak dapat menutupi   aurat) kemudian solat diteruskan  juga, maka solat yang dikerjakan itu tidak sah kerana aurat tidak ditutup (terbuka). Oleh itu hendaklah diulangi semula solat tersebut, Pastikan setiap solat yang didirikan adalah sah, dengan mengikut syarat-syarat sah solat. Oleh yang demikian, sebelum mendirikan solat pastikan kain perlulah labuh sedikit supaya aurat tidak mudah terbuka, atau pakailah sarung kaki atau ‘stokin’   . Dengan itu solat yang didirikan akan dibina atas dasar mengikut sebagaimana yang diperintah oleh Allah SWT iaitu menutup aurat diikuti dengan rasa ‘khusyuk’ dan ‘tawadhuk’ kerana sedang ‘bercakap dan membuat perakuan’, ‘berdoa’ dan ‘bermunajat’ di hadapan Allah SWT. Mudah-mudahan setiap kali solat yang sah itu akan diterima oleh Allah SWT.  Wallahua’lam). 
 
 
7. Bahagian dagu. Seringkali dilihat ada wanita mungkin masih ‘tidak memahami’ sampai manakah bahagian aurat mereka, iaitu berkenaan dengan ‘dagu’. Pertama sekali, perlu diketahui mengenai persoalan bahagian manakah yang dikatakan aurat perempuan. Aurat perempuan tidak sama sebagaimana urat lelaki. Bagi perempuan bahagian auratnya ialah selain bahagian muka dan tapak tangan (Sila rujuk maksud hadis Rasulullah SAW di atas).

 
 
Syara’ tidak menaskan secara terang mengenai dagu, akan tetapi telah menaskan di dalam Al-Quran dan As-Sunnah hukum berkaitan dengan muka. Persoalannya adakah dagu termasuk di dalam bahagian muka? Mengikut dari segi bahasa bahagian muka ialah daripada hujung dahi sehingga ke dagu iaitu yang dapat dilihat ketika berhadapan antara satu sama lain. Mengikut sahih athar oleh Nawawi dalam Majmuk 7/268 bermaksud dagu itu adalah sebahagian daripada muka sepertimana yang disebut oleh Ibn Umar “Bahagian atas daripada dagu termasuk dalam anggota kepala”. Imam Syafie dengan ilmu lughah menaskan di dalam ‘al-Umm’ 7/242 mengatakan bahawa dagu adalah sebahagian daripada muka. Para ulamak di dalam ‘Musu’ah Fiqhiyyah’ sepakat mengatakan dagu adalah sebahagian daripada muka. “Maka kesimpulannya ialah bahagian bawah daripada tulang dagu adalah aurat”.

 
 
Kebanyakan telekung masakini didapati tidak ada penutup dagu (orang jawa panggil ‘kekek’) yang sempurna. Oleh kerana bawah dagu perlu ditutup dengan rapi dan ‘sempurna’, maka dinasihatkan agar membuat bahagian ‘kekek’ sendiri supaya apabila dipakai ianya akan menutupi bawah dagu hingga melepasi tulang dagu. Jika tidak melepasi tulang dagu maka solatnya tidak sah. Apatah lagi jika sedang di dalam Ihram Haji atau Ihram Umrah. Melakukan ‘Tawaf’ Haji’ atau ‘Tawaf Umrah’ dengan tidak menutup aurat maka tawafnya adalah tidak sah. Apabila tawaf tidak sah, kita masih belum boleh melakukan saie kerana masih belum menyempurnakan tawaf. Dikhuatiri  dengan beranggapan bahawa tawaf telah sempurna, maka pergilah pula melakukan saie dan bercukur. Maka tidak sah segala-galanya kerana tawaf belum dilakukan dengan sempurna (salah satu syarat sah tawaf ialah menutup aurat). Di samping itu juga ‘dam’ dikenakan kerana tawaf belum sempurna tetapi telah melakukan saie dan bercukur pula – sila rujuk Ustaz atau Ustazah di tempat anda. Oleh itu, sebelum bertawaf pastikan ‘dagu’ puan-puan telah ditutup dengan rapi dan sempurna dan pastikan bahagian bawah dagu sentiasa tertutup supaya tawaf yang dikerjakan adalah sah. Setiap kali mengerjakan tawaf, puan-puan hendaklah yakin bahawa setiap tawaf yang dilakukan itu adalah sempurna dan sah.
 
 
 
 
Jika tawaf tidak sah maka diri masih lagi di dalam keadaan ber’ihram’. Begitu banyak perkara-perkara yang dilarang atau pantang larang semasa di dalam ihram. Dikhuatiri terus pulang ke tanah air kerana beranggapan semua syarat sahHaji mahu pun Umrah telah dilakukan, namun masih lagi berstatus di dalam ‘berihram’. Oleh itu puan-puan, marilah, ayuhlah, tanyalah ustazah di tempat puan-puan dengan segera, sekarang juga cara menutup dagu yang betul, bukan sekadar bertanya, tetapi hendaklah diikuti dengan praktikalnya.
 
Terbuka Aurat Secara Tiba-Tiba
Berbeza hukumnya dengan aurat yang terbuka secara tiba-tiba dan tidak disengajakan, maka sembahyangnya tetap sah dengan syarat hendaklah ditutup dengan segera. Yang dimaksudkan dengan tidak sengaja ialah seperti ditiup angin atau terbuka disebabkan oleh haiwan atau kanak-kanak yang belum mumayyiz kerana mereka tidak mempunyai niat atau maksud di sebalik perbuatan itu. Sebaliknya jika aurat itu terbuka disebabkan oleh kanak-kanak yang sudah mumayyiz, maka batallah sembahyangnya.
 
Kesimpulan
Adalah menjadi kebiasaan memakai telekung putih ketika sembahyang dan ini menepati ciri-ciri yang digambarkan sebagai pakaian yang sempurna dan digalakkan di dalam Islam. Di samping itu perlu menjaga kebersihan pakaian yang dipakai dan tempat bersembahyang daripada najis merupakan di antara syarat sah sembahyang. Maka hendaklah kita mengambil perhatian yang sewajarnya dan meneliti dengan sesempurnanya mengenai perkara-perkara yang bersangkutan dengan syarat sah sembahyang agar ibadat yang dilaksanakan akan diterima oleh Allah Subhanahu Wa Ta‘ala.
 

Wallahua’lam.

Menangkap Kebahagiaan

Posted: April 12, 2013 in My Dokument

Pernahkah Anda merasa begitu kecil di tengah dunia yang semakin terlihat gemerlap? Atau, apakah Anda menghela nafas melihat para ABG mengikuti berbagai kontes kecantikan di televisi untuk mendapatkan kekayaan sementara beribu anak lain terlantar di negeri ini? Kesenjangan antara si kaya dan si miskin memang begitu nyata namun menjadi selebritis atau terkenal adalah hak setiap insan. Jika nurani Anda terusik, Anda harus bersyukur masih memiliki rasa itu. Namun jika Anda selalu merasa tidak puas pada apa yang telah dicapai kini, mungkin Anda mengalami deprivasi relatif.

Deprivasi Relatif (Relative Deprivation,selanjutnya disebut RD)

Manusia adalah makhluk sosial di samping juga sebagai pribadi yang unik, psikologi telah meyakinkan dalam berbagai studi bahwa tidak ada satu pun orang yang sama, meski terlahir kembar identik. Sebagai makhluk sosial, siapapun Anda membutuhkan orang lain untuk berbagi, bercanda, bercerita, berdiskusi bahkan bertengkar (it takes two to tango!). Dalam berinteraksi, adalah wajar jika terjadi pembandingan-pembandingan terhadap perbedaan yang ada, itu pula yang akan memacu seseorang untuk berusaha lebih dan lebih lagi. Hal ini dikenal sebagai stres positif atau eustress namun adakalanya Anda mundur dan merasa begitu tersiksa, inilah distress atau stress negatif di mana stressor (pemicu stress) lebih sebagai penghalang bukan tantangan.
Anda mungkin tidak hanya menjadi tertekan atau stres, Anda bisa saja mengalami RD saat apa yang Anda dapat jauh berbeda dengan yang diinginkan. Seperti dinyatakan oleh Gurr & Crosby,

“RD is a perceived discrepancy between an individual’s subjective ‘value expectations’ and ‘value capabilities’. Value expectations’ denote the goods and conditions to which individu believe they are rightfully entitled; and value capabilities’ refers to the goods and conditions of life they think they are capable of attaining.”(dalam Walker & Pettigrew,h.4,2003)

Teori ini pertama digagas oleh Stouffer, dkk tahun 1949 dalam terma masyarakat, artinya suatu kelompok masyarakat juga bisa mengalami RD terhadap kelompok lain, masa lalu atau kategori sosial lain. Gurr & Crosby pada tahun 1970 kembali menformulasi dalam terma individu. Jadi RD merupakan suatu kesenjangan yang dialami tidak hanya secara personal namun juga kolektif.

Tidak dapat disalahkan sepenuhnya jika Anda merasa kurang dan kurang, karena dunia semakin mengglobal, konsumerisme semakin merajalela, dunia terasa instan. Televisi juga turut memicu RD, lihat saja berbagai sinetron glamor yang bisa ditonton siapa saja baik di metropolitan atau pelosok desa, sangat mungkin jika seseorang yang awalnya ‘damai’ dalam kesederhanaan menjadi resah karena tidak memiliki benda mewah.

Lalu bagaimana jika teman Anda menuduh, bahwa itu salah Anda sendiri yang terlalu tinggi berangan-angan? Jangan dulu marah, karena sesungguhnya setiap orang hidup dengan dua motivasi dasar yaitu kebutuhan untuk beradaptasi dan untuk menjadi diri sendiri (aktualisasi diri), menurut Allport (dalam Fiest & Fiest,2002):
People are driven both by the need to adjust and by the tendency to grow or to become more and more self-actualized. Adjustment needs and growth needs exists side by side within the same person. (Allport dalam Fiest & Fiest, h. 420, 2002)

Garin Nugroho juga menyatakan bahwa manusia sesungguhnya akan selalu dihadapkan dengan ciptaan dan penemuan manusia itu sendiri (1998). Jika seminggu yang lalu Anda masih tidak mau memiliki telepon selular karena merasa tidak pernah ‘kemana-mana’ dan hari ini Anda terpaksa pergi ke kawasan Roxy untuk membeli hp setelah teman dan saudara Anda mengeluh, “Aduuh…dari hp ke telepon rumah kan mahal, kalo ada hp kan tinggal sms aja!”, itu salah satu jawaban dari cipta karya anak manusia itu sendiri.

Lalu, apakah kemudian menjadi bahagia adalah harus mahal? Meyers mencoba meyakinkan Anda dalam Psychology Today, menurutnya, usia, ras, atau penghasilan sama sekali bukan petunjuk seseorang bahagia atau tidak. Meski tidak ada satu rumusan pasti, Meyers mencoba memberi beberapa tips:

a. Tidak ada kebahagiaan abadi

Bayangkan suatu saat Anda berhasil mendapatkan bea siswa ke luar negeri setelah empat kali mencoba, senang? Pasti, mungkin Anda akan berteriak girang dan ingin semua orang tahu, tapi yakinlah itu tidak akan terus terjadi, satu atau mungkin dua minggu kemudian perasaan Anda akan kembali seperti sedia kala, masa euforia berakhir juga. Pendapatan penduduk Amerika kini dua kali lipat lebih besar jika dibandingkan dengan tahun 1957, tapi apakah tidak ada orang depresi? Tidak juga, bahkan krisis moneter di Indonesia tidak selamanya membuat kita melipat wajah kan? Maka Meyers menyarankan untuk tidak perlu merasa iri pada kekayaan, karena menurutnya,”happiness is less a matter of getting what we want than wanting what we have.”

b. Nikmati tiap detiknya…

Hampir setiap orang berlomba untuk menyiapkan masa depan sebaik-baiknya, bahkan di kota metropolitan ini matahari seringkali ‘kalah’, mungkin Anda salah satu yang sering berlari sebelum mentari muncul dan kembali ke rumah saat mentari terlelap. Sadarkah bahwa kita seakan-akan tidak hidup di masa kini tapi berharap untuk hidup seperti juga mempersiapkan kebahagiaan, bukankah tidak seharusnya selalu begitu. Kebahagiaan tidak berada nun jauh di sana, coba sejenak tengok bunga mawar di taman depan, atau senyum si kecil yang mengusik Anda kala menyiapkan presentasi, sudahkah Anda merasakannya?

c. Kendalikan waktu

Salah satu cara agar lebih merasa berkuasa adalah dengan mengendalikan waktu Anda. Psikolog dari Universitas Oxford, Michael Argyle mengatakan, “For happy people, time is ‘filled and planned’, for unhappy people time is unfilled, open and uncommitted; they postpone things and are inefficient”. Agar efektif lakukan rencana besar dalam rencana-rencana kecil. Menyusun laporan dalam satu malam mungkin bisa Anda kerjakan tapi pasti lebih membuat lelah, akan lebih ringan jika Anda telah menyiapkan bahan-bahan untuk laporan tiga-empat hari sebelumnya.

d. Berlaku bahagialah

Bisa juga mencoba salah satu prinsip dalam psikologi sosial: We are as likely to act ourselves into a way of thinking as to think ourselves into action. Dalam satu eksperimen, orang yang berpura-pura memiliki percaya diri tinggi ternyata dapat merasa lebih baik, bahkan saat mencoba ekspresi tersenyum.

e. Manfaatkan waktu luang

Adakalanya seseorang merasa tertekan dan stres, di saat lain bisa juga merasa bosan dan tidak bersemangat (underchallanged), di antara keduanya ada zona yang disebut ‘flow’ (mengalir) oleh Mihaly Csikszentmihalyi, psikolog dari Universitas Chicago. Pada zona ini seseorang merasa tertantang namun tidak terlalu cocok sehingga ia ‘tersedot’ dan tanpa sadar kehilangan waktunya. Csikszentmihalyi melihat orang menemukan pengalaman menyenangkan dalam zona ini, dan bisa memperpanjang waktu luang. Ironisnya lebih banyak waktu luang yang tersedia untuk begitu saja mengalir. Orang lebih suka menghabiskan waktu di depan layar tv dan biasanya tidak mendapatkan sesuatu yang berguna. Padahal ada banyak yang bisa dilakukan seperti merapikan taman, mengundang teman, main bola dengan si kecil, jalan-jalan sejenak dengan keluarga atau menulis surat pada sahabat lama maka Anda akan lebih mendapatkan kesenangan

f. Olah raga

Beberapa studi menunjukkan erobik dapat mencegah depresi ringan dan kecemasan. Pilihan olah raga bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing orang, sebab dalam satu survai dilaporkan jika kondisi fisik membaik, orang akan cenderung lebih percaya diri, tidak stres dan lebih bersemangat

g. Cukup istirahat

Resep utama untuk berenergi, salah satunya dengan menjalani hidup dengan tersenyum, karena itu sisihkan waktu untuk tidur dan istirahat yang cukup agar bangun dalam kondisi bugar dan semangat

h. Jalin persahabatan

Tidak ada yang dapat menangkal ketidakbahagiaan dari pada persahabatan yang erat dengan seorang yang benar-benar memperhatikan dan menyayangi Anda. Mereka yang memiliki banyak teman dekat untuk berbagi, bercerita cenderung lebih berbahagia dan sehat. Karenanya Meyers menyarankan bagi yang telah menikah untuk lebih menetapkan hati dan berikan yang terbaik bagi pasangan, dukung dan berbagi dalam cinta maka Anda berdua akan merasa lebih muda

i. Menjaga rohani

Faith doesn’t promise immunity from suffering, but it does enable a streghthened walk through valleys of darkness. Semua yang terjadi adalah kehendak-Nya, menjalin hubungan yang erat dengan sang pencipta merupakan sandaran yang menjanjikan, seperti juga dikatakan Meyers di atas bahwa keyakinan tidak berarti Anda bebas dari derita namun keyakinan akan menolong melewati semua itu.

Penutup

Ternyata banyak hal yang bisa membuat kita tersenyum di setiap jengkal kehidupan ini. Penulis pernah membaca satu buku yang menceritakan seseorang yang selama hidupnya merasa akan bahagia jika memiliki A dan setelah mendapatkannya ia kembali akan merasa bahagia jika mendapatkan B, begitu seterusnya sampai akhirnya tertulis di batu nisan, “Telah meninggal seorang yang akan berbahagia”. Tentu kita tidak ingin seperti itu, jadi mulailah untuk menemukan kebahagiaan di mana pun dan kapan pun. Penulis pun senang dapat berbagi tips dengan Anda, semoga berguna.

Smile… and the world will smile for you…

Sumber:
Meyers, David G. (1993) Pursuing happiness; where to look, where not to look. Dalam Psychology Today- publication date Jul/Aug 93. http://www.psychologytoday.com

Nugroho, Garin (1998) Kekuasaan dan hiburan. Yogyakarta; Yayasan Bentang Budaya.

Feist, Jess., Feist, Gregory J., (2002) Theories of personality-fifth edition. Boston: McGraw Hill

Walker, Iain., Pettigrew, Thomas F. (2003) Relative deprivation theory: an overview and conceptual critique. Dalam Michael A. Hogg (ed) Social psychology-volume iv:intergroup behavior and social context. London: Sage publication

** Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Psikologi Sosial Sains Universitas Indonesia (680 100 1093)

MOTIVATOR

Posted: April 12, 2013 in My Dokument

 

Trainer yang berkualitas sangatlah sulit didapatkan perusahaan. Kebanyakan motivator untuk para karyawan hanya membacakan materi lewat presentasi yang membosankan atau mengadakan banyak permainan yang cukup seru tapi tidak membawa perubahan yang permanen.

Kini, saatnya saya membagikan tips untuk menjadi trainer atau motivator yang bermutu;

1)Mulai dengan cepat dan akhiri dengan kesan yang baik. Jangan bertele-tele dengan perkenalan dan pembukaan yang panjang. Akhiri dengan kata-kata yang tak terlupakan sehingga pelatihannya selalu diingat-ingat meski telah berakhir serta mendorong perubahan yang bermakna.

2)Selalu berlatih dan melakukan persiapan dengan matang. Rekam sesi motivasi untuk evaluasi nanti. Perbanyak praktek dan perbaiki materi serta cara mempresentasikannya. Siapkan alat bantu visual, video, multimedia, alat dan media untuk menggambar, serta hadiah sederhana untuk kuis atau permainan.

3)Fokus, selalu antusias, dan menjaga tingkat energi agar tetap bersemangat dalam memberikan training dengan bahasa tubuh yang meyakinkan. Berbicaralah dengan penuh kepercayaan diri, gerakkan badan dan tangan secara harmonis berkoordinasi dengan apa yang ingin disampaikan.

4)Perhatikan dan manfaatkan emosi serta gaya belajar dari para partisipan. Gunakan gambar dan tulisan, video dan lagu, contoh kasus dan strategi, gambaran umum dan detail khusus, pertanyaan dan permainan, pengajaran dan diskusi, dan sebagainya. Ciptakan interaksi personal yang menarik dan pancing sensasi perasaan yang menggugah.

5)Sederhanakan presentasi, beri ruang agar partisipan belajar dan menemukan sendiri ilmu yang ingin diajarkan. Berikan lembaran untuk partisipan memberikan umpan balik dan menulis saran/masukan untuk sang trainer.

6)Tingkatkan kecerdasan intelektual, emosional, dan sosial untuk para partisipan dengan membentuk kelompok atau grup yang saling berkompetisi. Para peserta pelatihan akan belajar berinteraksi, bekerja sama, dan saling melengkapi dalam sebuah kelompok. Berikan tugas yang cukup menantang bagi grup-grup ini.

7)Last but not least, be yourself! Jadilah diri sendiri, jadilah versi yang terbaik dari diri sendiri. Setiap orang itu unik dan bisa memaksimalkan potensi dirinya tanpa perlu menjadi orang lain. Tapi kita juga memerlukan orang lain sebagai role-model, orang-orang yang telah mencapai kesuksesan yang ingin kita miliki. Selain mencari sosok yang bisa diteladani, kita juga harus mendapatkan tim pendukung untuk membantu presentasi ini. Tanpa dukungan orang lain, seorang trainer tidak akan berhasil dalam membawakan materi pelatihannya.

Sekian dahulu tips untuk kali ini, semoga berguna dan bisa membawa perubahan yang berarti..

 

Motivator adalah orang yang mampu membangkitkan untuk timbulnya motivasi pada orang lain untuk melaksanakan sesuatu yang lebih baik. Jadi motivator adalah penyalur energi aktif yang menyebabkan terjadinya suatu perubahan pada diri sesorang yang nampak pada kejiwaan, perasaan, dan juga emosi, sehingga mendorong seseorang untuk bertindak atau melakukan sesuatu dikarenakan adanya keinginan, kebutuhan ataupun tujuan yang harus dicapai. Sehingga seorang menjadi memiliki motivasi tinggi dan sehingga dapat diartikan orang tersebut memiliki alasan yang sangat kuat untuk mencapai apa yang diinginkannya dengan mengerjakan pekerjaannya yang sekarang.

Banyak cara dan media yang bisa digunakan untuk menyalurkan ide serta “mantra” saktinya untuk menyalurkan energi para motivator. Mulai dari bentuk tatap muka langsung secara pribadi maupun secara massal. Ada juga yang menggunakan buku sebagai “kitab” ajaib agar bisa dibaca oleh para insan yang menginginkan tambahan energi motivasi. Media lain yang lebih populer dengan bentuk tayangan gambar dan suara dari keping vcd hingga tayangan televisi. Dengan banyaknya ragam media tersebut maka pilihan terbaik terserah pada para pencari “pencerahan”. Motivator hampir semuannya mengatakan bila uang yang dikeluarkan untuk membeli dan membayar kebutuhan tersebut akan selalu diartikan investasi. Sebab mereka berkeyakinan bahwa uang yang sudah dibayarkan akan menghasilkan yang lebih dari nominal yang sudah dikeluarkan, padahal sebenarnya ya sama saja tetap keluar uang yang hasilnya belum tentu juga ada.

Seorang motivator yang sukses harus mempunyai kemampuan berbicara dan menulis yang mumpuni. Kemampuan berbicara dalam bentuk komunikasi interpersonal serta publik speaking menjadi sangat penting karena disitu letak kuncinya. Bisa saja materi yang disampaikan tidak jelas bahkan tidak bermutu yang penting harus pandai cuap-cuap. Secara sederhana motivator hanya akan menyampaikan sesuatu yang sifatnya seperti bagaimana cara buka pintu. Mau tahu caranya?

Semua pembaca pasti tahu apa itu pintu, tempat di mana kita masuk-keluar dari suatu tempat atau ruangan. Di pintu sering kali ada tulisan dorong dan tarik sebagai petunjuk cara membuka pintu tersebut. Mana kala kita ingin menjadi motivator maka pilihannya adalah “dorong” atau “tarik” orang yang perlu dimotivasi agar segera bergerak atau gerakannya semakin cepat. Dengan mengikuti pola cara kerja buka pintu tadi maka motivator cukup berkreasi pada 2 hal saja. Ibaratkan motivator dengan nuansa religi maka umatnya cukup didorong dengan ditakut-takuti pada siksa neraka, jika dengan ditarik maka dijanjikan iming-iming sebuah taman surgawi. Di dunia kerja sering kali diberikan ancaman berupa pemotongan gaji dan pemecatan sedangkan iming-imingnya adalah naik gaji dan promosi jabatan. Atau kita orang tua sering kali juga menakut-nakuti anak untuk berbuat baik dan sering kali juga mengiming-imingi hadiah jika anak telah melakukan perbuatan baik.

Apabila ini dilakukan maka semua orang akan mampu menjadi motvator apalagi hanya modal ngomongan saja sangatlah mudah sekali. Tauladan dalam bentuk perilaku serta tindakan akan lebih sulit untuk dilakukan daripada sekedar “omdo” yang tidak jelas dan bahkan tidak bermutu. Sebenarnya seorang morivator seharusnya menyampaikan pesan berdasarkan pengalaman yang pernah dijalani dan sudah ditekuni sekian lama tidak bisa langsung berbicara didepan umum tanpa landasan yang kuat. Dasar pengalaman yang dimiliki akan dengan mudah memahami karakter manusia-manusia yang didik atau dilatihnya. Selain itu akan membuat motivator lebih bisa mengkhususkan terhadap kajian persoalan dibidang atau hal tertentu saja dan tidak seperti motivator indonesia yang secara umum memberikan solusi persoalan disegala bidang. Padahal jika kita telusuri para motivator hanya memiliki prestasi dibidang tertentu saja. Sebenarnya kita harus menyadari bahwa keberhasilan dibidang apapun selalu memerlukan perjuangan serta doa yang dalam perjalanannya akan menemui banyak rintangan, kegagalan, sedih, kecewa dan khawatir.

Keberhasilan menggapai sebuah kesuksesan dan kaya tidak harus mengikuti ceramah atau mendengarkan omongan orang lain. Namun kini masyarakat merasa tidak akan sukses dan kaya jika tidak mengikuti semacam seminar ataupun mendengarkan mimbar yang menampilkan seorang motivator ternama. Hal ini sebetulnya juga tidak salah, kadang kita perlu penyegaran kembali namun yang perlu adalah mencontoh orang sukses dengan prestasi yang benar-benar telah terbukti dengan memperhatikan cara dalam menggapai sebuah kesuksesan. Jika kalau kita ingin sukses dan kaya dengan selalu mendengarkan dan mengikuti setiap acara yang dibuat oleh motivator maka yang akan sukses dan kaya adalah motivator itu sendiri dan bukan yang mendengarkan dan mengikuti kegiatannya karena kita akan selalu mengeluarkan uang sedangkan motivator cukup obral omongan maka uang akan diterimanya semakin bertambah banyak.

Motivator telah menjadi bisnis yang bisa membuat orang begitu mudah ngomong. Banyak petuah dan kata-kata indah dan mudah untuk diucapkan padahal akan sangat sulit untuk dilakukan bahkan oleh si motivator itu sendiri. Motivasi terbaik dalam hidup adalah rasa puji syukur terhadap nikmat yang telah didapatkan dan menjalani indahnya hidup secara wajar dan senantiasa berusaha serta serta berdoa agar jalan mencapai tujuan dapat dilalui dengan mudah. Bukan dengan mendengar omongan-omongan yang hebat dan sekali lagi bahwa ngomong jauh lebih gampang daripada menjalani. Kita akhirnya cukup membangun motivasi diri sendiri dalam mencapai cita-cita dan menempatkannya sebagai TEKANAN atau TANTANGAN hidup. Ibarat cita-cita ada dalam sebuah ruangan yang tersekat oleh sebuah pintu maka untuk kita dapat menggapainnya harus melalui dengan membuka pintu tersebut. Pilihannya terserah masing-masing orang mau dengan di TARIK atau DORONG.

Salam Semangat Selalu

 

Motivator adalah orang yang mampu membangkitkan untuk timbulnya motivasi pada orang lain untuk melaksanakan sesuatu yang lebih baik. Jadi motivator adalah penyalur energi aktif yang menyebabkan terjadinya suatu perubahan pada diri sesorang yang nampak pada kejiwaan, perasaan, dan juga emosi, sehingga mendorong seseorang untuk bertindak atau melakukan sesuatu dikarenakan adanya keinginan, kebutuhan ataupun tujuan yang harus dicapai. Sehingga seorang menjadi memiliki motivasi tinggi dan sehingga dapat diartikan orang tersebut memiliki alasan yang sangat kuat untuk mencapai apa yang diinginkannya dengan mengerjakan pekerjaannya yang sekarang.

Banyak cara dan media yang bisa digunakan untuk menyalurkan ide serta “mantra” saktinya untuk menyalurkan energi para motivator. Mulai dari bentuk tatap muka langsung secara pribadi maupun secara massal. Ada juga yang menggunakan buku sebagai “kitab” ajaib agar bisa dibaca oleh para insan yang menginginkan tambahan energi motivasi. Media lain yang lebih populer dengan bentuk tayangan gambar dan suara dari keping vcd hingga tayangan televisi. Dengan banyaknya ragam media tersebut maka pilihan terbaik terserah pada para pencari “pencerahan”. Motivator hampir semuannya mengatakan bila uang yang dikeluarkan untuk membeli dan membayar kebutuhan tersebut akan selalu diartikan investasi. Sebab mereka berkeyakinan bahwa uang yang sudah dibayarkan akan menghasilkan yang lebih dari nominal yang sudah dikeluarkan, padahal sebenarnya ya sama saja tetap keluar uang yang hasilnya belum tentu juga ada.

Seorang motivator yang sukses harus mempunyai kemampuan berbicara dan menulis yang mumpuni. Kemampuan berbicara dalam bentuk komunikasi interpersonal serta publik speaking menjadi sangat penting karena disitu letak kuncinya. Bisa saja materi yang disampaikan tidak jelas bahkan tidak bermutu yang penting harus pandai cuap-cuap. Secara sederhana motivator hanya akan menyampaikan sesuatu yang sifatnya seperti bagaimana cara buka pintu. Mau tahu caranya?

Semua pembaca pasti tahu apa itu pintu, tempat di mana kita masuk-keluar dari suatu tempat atau ruangan. Di pintu sering kali ada tulisan dorong dan tarik sebagai petunjuk cara membuka pintu tersebut. Mana kala kita ingin menjadi motivator maka pilihannya adalah “dorong” atau “tarik” orang yang perlu dimotivasi agar segera bergerak atau gerakannya semakin cepat. Dengan mengikuti pola cara kerja buka pintu tadi maka motivator cukup berkreasi pada 2 hal saja. Ibaratkan motivator dengan nuansa religi maka umatnya cukup didorong dengan ditakut-takuti pada siksa neraka, jika dengan ditarik maka dijanjikan iming-iming sebuah taman surgawi. Di dunia kerja sering kali diberikan ancaman berupa pemotongan gaji dan pemecatan sedangkan iming-imingnya adalah naik gaji dan promosi jabatan. Atau kita orang tua sering kali juga menakut-nakuti anak untuk berbuat baik dan sering kali juga mengiming-imingi hadiah jika anak telah melakukan perbuatan baik.

Apabila ini dilakukan maka semua orang akan mampu menjadi motvator apalagi hanya modal ngomongan saja sangatlah mudah sekali. Tauladan dalam bentuk perilaku serta tindakan akan lebih sulit untuk dilakukan daripada sekedar “omdo” yang tidak jelas dan bahkan tidak bermutu. Sebenarnya seorang morivator seharusnya menyampaikan pesan berdasarkan pengalaman yang pernah dijalani dan sudah ditekuni sekian lama tidak bisa langsung berbicara didepan umum tanpa landasan yang kuat. Dasar pengalaman yang dimiliki akan dengan mudah memahami karakter manusia-manusia yang didik atau dilatihnya. Selain itu akan membuat motivator lebih bisa mengkhususkan terhadap kajian persoalan dibidang atau hal tertentu saja dan tidak seperti motivator indonesia yang secara umum memberikan solusi persoalan disegala bidang. Padahal jika kita telusuri para motivator hanya memiliki prestasi dibidang tertentu saja. Sebenarnya kita harus menyadari bahwa keberhasilan dibidang apapun selalu memerlukan perjuangan serta doa yang dalam perjalanannya akan menemui banyak rintangan, kegagalan, sedih, kecewa dan khawatir.

Keberhasilan menggapai sebuah kesuksesan dan kaya tidak harus mengikuti ceramah atau mendengarkan omongan orang lain. Namun kini masyarakat merasa tidak akan sukses dan kaya jika tidak mengikuti semacam seminar ataupun mendengarkan mimbar yang menampilkan seorang motivator ternama. Hal ini sebetulnya juga tidak salah, kadang kita perlu penyegaran kembali namun yang perlu adalah mencontoh orang sukses dengan prestasi yang benar-benar telah terbukti dengan memperhatikan cara dalam menggapai sebuah kesuksesan. Jika kalau kita ingin sukses dan kaya dengan selalu mendengarkan dan mengikuti setiap acara yang dibuat oleh motivator maka yang akan sukses dan kaya adalah motivator itu sendiri dan bukan yang mendengarkan dan mengikuti kegiatannya karena kita akan selalu mengeluarkan uang sedangkan motivator cukup obral omongan maka uang akan diterimanya semakin bertambah banyak.

Motivator telah menjadi bisnis yang bisa membuat orang begitu mudah ngomong. Banyak petuah dan kata-kata indah dan mudah untuk diucapkan padahal akan sangat sulit untuk dilakukan bahkan oleh si motivator itu sendiri. Motivasi terbaik dalam hidup adalah rasa puji syukur terhadap nikmat yang telah didapatkan dan menjalani indahnya hidup secara wajar dan senantiasa berusaha serta serta berdoa agar jalan mencapai tujuan dapat dilalui dengan mudah. Bukan dengan mendengar omongan-omongan yang hebat dan sekali lagi bahwa ngomong jauh lebih gampang daripada menjalani. Kita akhirnya cukup membangun motivasi diri sendiri dalam mencapai cita-cita dan menempatkannya sebagai TEKANAN atau TANTANGAN hidup. Ibarat cita-cita ada dalam sebuah ruangan yang tersekat oleh sebuah pintu maka untuk kita dapat menggapainnya harus melalui dengan membuka pintu tersebut. Pilihannya terserah masing-masing orang mau dengan di TARIK atau DORONG.

Salam Semangat Selalu